Kamis, 21 Mei 2015

Psikologi Pendidikan


PSIKOLOGI PENDIDIKAN (Educational Psychology)
A.      PENGERTIAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
*      Psikologi pendidikan merupakan cabang dari psikologi yang khusus mempelajari perilaku manusia dalam konteks pendidikan.
*      Psikologi pendidikan merupakan psikologi khusus.
*      Psikologi pendidikan merupakan psikologi terapan, diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah psikolgis dalam praktik pendidikan.
B.      HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN PENDIDIKAN
*      Mendidik berarti membantu peserta didik agar mereka dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tujuan pendidikan.
*      Peserta didik merupakan makhluk bio-psiko-sosio-spiritual.
*      Aspek psikologis tidak dapat diabaikan dalam proses pendidikan.
*      Pendidikan dilakanakan berdasarkan : landasan filosofis, psikologis, sosio-kutural, & teknologis
C.      DEFINISI & TUJUAN PENDIDIKAN
1.       Menurut F.H. Phenix
“Education is the process whereby persons intentianally guide the development of persons”
2.       Menurut Ki Hajar Dewantara
Pendidikan adalah tuntunan segala kekuatan kodrat yang ada pada anak2, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
3.       Menurut TAP MPR NO. V/MPR/1973
Pendidikan pada hakikatnya adalah  usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah.
4.       Menurut UU RI No. 2 Tahun 2003
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.


KESIMPULAN
*      Pendidikan  adalah  tuntunan, pimpinan, bimbingan yang dilakukan  secara sadar (sengaja) oleh seseorang atau  sekelompok orang  kepada seseorang atau sekelompok orang.
*      Tuntunan, pimpinan, dan bimbingan tersebut  dilakukan   dengan maksud membantu perkembangan si terdidik ke  arah tujuan tertentu.
*      Bahwa   kegiatan  pendidikan  (interaksi pendidik dengan peserta didik) dapat terjadi di dalam maupun di luar sekolah.
RENSTRA DEPDIKNAS
1.       VISI DEPDIKNAS: “INSAN INDONESIA CERDAS DAN KOMPETITIF”
2.       MISI DEPDIKNAS: “MEWUJUDKAN PENDIDIKAN YANG MAMPU MEMBANGUN INSAN INDONESIA CERDAS DAN KOMPETITIF DENGAN ADIL, BERMUTU, DAN RELEVAN UNTUK KEBUTUHAN MASYARAKAT GOBAL”

D.      TOKOH-TOKOH YANG BERJASA THD PERKEMB. PSIKOLOGI PENDIDIKAN
1.       DEMOCRITUS
v  In the fifth century B.C., Democritus, for example, wrote on the advantages conferred by schooling and the influence of the home on learning (Watson, 1961).
v  (Pada abad ke-5 sebelum masehi, sebagai contoh,  Democritus  menulis tentang man-faat - manfaat tindakan  oleh  sekolah  dan pengaruh lingkungan rumah pada keberha-silan belajar individu)
2.       PLATO  & ARISTOTELES
                A century later, Plato and Aristotle discussed the following educational psychology topics (Adler, 1952; Watson, 196 1 ) : the kinds of education appropriate to different kinds of people; the training of the body and the cultivation of psychomotor skills; the formation of good character; the possibilities and limits of moral education; the effects of music, poetry, and the other arts on the development of the individual; the role of the teacher; the relations between teacher and student; the means and methods of teaching; the nature of learning; the order of learning; affect and learning; and learning apart from a teacher.
Pada abad ke-4 sebelum masehi, Plato and Aristoteles berdikusi tentang topik-topik psikologi pendidikan :
a.       Jenis-jenis pendidikan yang sesuai berdasarkan perbedaan-perbedaan peserta  didik;
b.      Latihan-latihan jasmani dan pengembangan keterampilan psikomotor;
c.       Bentuk-bentuk karakter yang baik;
d.      Kemungkinan-kemungkinan dan keterbatasan- keterbatasan pendidikan moral;
e.      Efek dari musik, puisi, dan seni-seni lainnya pada perkembangan individu;
f.        Peranan guru;
g.       Relasi antara guru dengan siswa;
h.      Alat-alat dan metoda mengajar;
i.         Jenis-jenis aktivitas belajar;
j.        Prinsip-prinsip belajar;
k.       Afeksi dan belajar;
l.         Belajar terlepas dari guru.
3.       JOHAN AMOS COMENIUS (1592-1671, Seorang ahli pendidikan dari Cekho.)
*      Anak jangan dianggap sbg miniatur orang dewasa;
*      Pembelajaran hendaknya dapat menarik perhatian anak, lakukanlah dg menggunakan alat peraga sehingga anak dapat mengamati, mengalami, dan menyelidiki.
4.       JEAN JAQUES ROUSSEAU (1712-1778, seorang pemikir dari Perancis).
*      “Segala-galanya baik ketika datang dari tangan Sang Pencipta, segala-galanya memburuk dalam tangan manusia.
*      Campur tangan orang tua/orang dewasa thd. Perkembangan anak dapat menimbulkan masalah jika hal itu tidak dilakukan dengan hati-hati.
*      Para pendidik hendaknya membekali dirinya dengan pengetahuan tentang kejiwaan peserta didik.
5.       J.P. PESTALOZZI (1746 – 1872, seorang pendidik dari Swiss)
*      Ia berusaha meningkatkan pendidikan di masyarakat dgn cara mengutamakan pendidikan bagi anak-anak.
*      Ia menganjurkan agar pendidikan untuk anak disesuaikan dgn perkembangan jiwa anak.
*      Ia menyarankan agar proses pembelajaran didasarkan pada pengalaman, dimulai dari yang paling mudah meningkat ke yang lebih sulit, sulit, dst.
6.       FRIDRICH FROBEL (1782 – 1852, seorang pendidik dari Jerman)
*      Ia mendirikan Kinder Garten (taman kanak-kanak).
*      Menurut Frobel, taman kanak-kanak merupa-kan tempat bagi anak-anak untuk bermain, bernyanyi, melatih daya cipta, dan menger-jakan pekerjaan tangan secara bersama.
7.       JOHANN FRIEDRICH HERBART ( 1776-1841).               
He not only may be considered the first voice of the modern era of psychoeducational thought, but his disciples, the Herbartians, played a crucial role in preparing the way for the scientific study of education. They wrote about what we now call schema theory, advocating a cognitive psychology featuring the role of past experience and schemata in learning and retention.
Herbartians promoted teaching by means of a logical progression of learning, a revolutionary idea at the end of the 19th century. They promoted the five formal steps for teaching virtually any subject matter: (1) preparation (of the mind of the student), (2) presentation (of the material to be learned), (3) comparison, (4) generalization, and (5) application. It was the Herbartians who first made pedagogical technique the focus of scientific study, pointing the way, eventually, to the field of research on teaching, a very fruitful area of research in educational psychology.
Herbartians (para murid Herbart) mengu-sulkan konsep mengajar dengan mema-kai kemajuan logis proses belajar. Mere-ka mengemukakan 5 langkah mengajar materi apa saja :
*      Persiapan;
*      Menyajikan materi;
*      Perbandingan;
*      Generalisasi;
*      Aplikasi.

E.       TEKNIK-TEKNIK MEMAHAMI PERILAKU DAN KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
1. Teknik tes
*      Dilakukan dengan alat yang valid dan reliabel;
*      Dilakukan dengan mengikuti aturan tertentu;
*      Dipilih untuk mengumpulkan data mengenai kemampuan akademik, bakat, minat, kecerdasan;
2.    Teknik non tes
*      Dilakukan dengan alat tertentu, misalnya kuesioner, pedoman wawancara, pedoman observasi, dst;
*      Dipilih untuk mengumpulkan data mengenai fakta ataupun opini;
*      Teknik non tes terdiri dari : observasi, wawancara, kuesioner, sosiometri, analisis karya, biografi, dst. 

F.       KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN
1.       KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI PENGEMBANGAN KURIKULUM
*      Kurikulum adalah seperangkat pengalaman belajar yang direncanakan dan dilaksanakan baik di dalam maupun di luar sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan.
*      Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mem-pertimbangkan aspek-aspek : (1) karakteristiik psikologis peserta didik; (2) kemampuan peserta didik untuk melakukan sesuatu dalam berbagai konteks; (2) pengalaman belajar siswa; (3) hasil belajar (learning outcomes), dan (4) standarisasi kemampuan siswa.
*      Penyusunan buku ajar (sumber belajar) didasarkan pada segi-segi psikologis peserta didik.
2.       KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI PENGEMBANGAN PROGRAM PENDIDIKAN dalam hal;
*      Pengembangan program pendidikan, misalnya penyusunan jadwal pelajaran, jadwal ujian, dst. tidak bisa lepas dari aspek psikologis peserta didik;
*      Penentuan jurusan atau program;
*      Pengembangan program harus mengacu pada upaya pengembangan kemampuan potensial peserta didik.
3.       KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI PENGEMBANGAN SISTEM PEMBELAJARAN, al. dalam hal:
*      Pemilihan teori belajar yg akan diaplikasi-kan sesuai usia dan perkembangan anak;
*      Pemilihan model-model pembelajaran;
*      Pemilihan media dan alat bantu dalam pembelajaran;
*      Penentuan alokasi waktu belajar dan pembelajaran.
4.       KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI SISTEM EVALUASI antara lain dalam:
*      Penentuan teknik evaluasi (teknik tes atau teknik non tes);
*      Penentuan jenis tes (lisan, tulis, dan perbuatan, serta objektif atau subjektif);
*      Penentuan mengenai waktu pelaksa-naan evaluasi;


Konsep Psikologi Pendidikan
CHAUHAN
Psikologi pendidikan adalah aplikasi penemuan-penemuan psikologi dalam pendidikan 
Berkaitan dengan perkembangan individu dalam setting pendidikan                                      
Untuk menjadikan manusia  yang sensitif dan reflektif
WS. Winkel & BF Skinner
Psikologi pendidikan adalah cabang dari psikologi  yang membahas tentang proses belajar dan mengajar
HC Whiterington Edwin Ray Guthrie
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis mengenai proses dan faktor-faktor kejiwaan yang  berkaitan dengan pendidikan
TEORI BELAJAR
1.       Teori Operant Conditioning
*      Teori Operant Conditioning dimulai pada tahun 1930-an.
*      Burhus Fredik Skinner selama periode teori stimulus (S)- Respons ( R) untuk menyempurnakan teorinya Ivan Pavlov yang disebut Classical Conditioning;
*      Skinner setuju dengan konsepnya John Watson bahwa psikologi akan diterima sebagai sain (science) bila studi tingkah laku (behavior) tersebut dapat diukur, seperti ilmu2 fisika, teknik, dan sebagainya.
2.       Skinner
 
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang  harus dapat diukur. Bila pembelajar (peserta didik) berhasil belajar, maka respon bertambah, tetapi bila tidak belajar banyaknya respon berkurang, sehingga secara formal hasil belajar harus bisa diamati dan diukur.
Terdapat tiga komponen dalam belajar :
a.       Discriminative stimulus (SD)
b.      Response
c.       Reinforcement (penguatan) => penguatan positif dan penguatan negative

3.       Teori Conditioning Of Learning, Robert M. Gagne
Didasarkan atas hasil riset tentang faktor-faktor yang kompleks pada proses belajar manusia. Penelitiannya dimaksudkan untuk menemukan teori pembelajaran yang efektif. Analisanya dimulai dari identifikasi konsep hirarki belajar, yaitu urut-urutan kemampuan yang harus dikuasai oleh pembelajar (peserta didik) agar dapat mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih kompleks.
Belajar memberi kontribusi terhadap adaptasi yang diperlukan untuk mengembangkan proses yang logis, sehingga perkembangan tingkah laku (behavior) adalah hasil dari efek belajar yang komulatif. (Gagne, 1968)
Belajar itu bukan proses tunggal bersifat kompleks. Belajar adalah  mekanisme dimana seseorang menjadi anggota masyarakat yang berfungsi secara kompleks. Meliputi kompetensi skill, pengetahuan, attitude (perilaku), dan nilai-nilai yang diperlukan manusia. Belajar adalah hasil dalam berbagai macam tingkah laku yang disebut kapasitas atau outcome. Kemampuan-kemampuan  diperoleh dari: (1)Stimulus dan lingkungan, (2)Proses kognitif
Kategori belajar:
1)      Verbal information (Informasi verbal)
Kemampuan yang dinyatakan , seperti membuat label, menyusun fakta-fakta, dan menjelaskan. Kemampuan/unjuk kerja dari hasil belajar, seperti membuat pernyataan, penyusunan frase, atau melaporkan informasi
2)      Intellectual Skill (Skil intelektual)
Kemampuan pembelajar yang dapat menunjukkan kompetensinya sebagai anggota masyarakat seperti; menganalisa berita-berita.
Membuat keseimbangan keuangan, menggunakan bahasa untuk mengungkapkan konsep, menggunakan rumus-rumus matematika
Ia tahu  Knowing how
3)      Attitude (Perilaku)
Kemampuan yang mempengaruhi pilihan pembelajar (peserta didik) untuk melakukan suatu tindakan. Belajar melalui model ini diperoleh melalui pemodelan atau orang yang ditokohkan, atau orang yang diidolakan.
4)      Cognitive strategi (Strategi kognitif)
Kemampuan yang mengontrol manajemen belajar si pembelajar mengingat dan berpikir.
Cara yang terbaik untuk mengembangkan kemampuan tersebut adalah dengan melatih pembelajar memecahkan masalah, penelitian dan menerapkan teori-teori untuk memecahkan masalah ril dilapangan. Melalui pendidikan formal pembelajar menjadi self learner dan independent tinke.
4.       Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget (Cognitive Development Theory)
Pengetahuan (knowledge) adalah interaksi yang terus menerus antara individu dengan lingkungan. Fokus Perkembangan Kognitif Piaget adalah perkembangan secara alami fikiran pembelajar mulai anak-anak sampai dewasa. Konsepsi perkembangan kognitif, duturunkan dari analisa perkembangan biologi organisme tertentu. Intelegen (IQ=kecerdasan) adalah seperti sistem kehidupan lainnya, yaitu proses adaptasi.
*      Perbedaan cara berfikir prasyarat perkembangan operasi formal
*      Gerakan bayi, semilogika,
*      Praoprasional pikiran anak-anak,
*      Operasi nyata anak-anak dewasa
a.       Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif (Piaget, 1977)
Ø  Lingkungan fisik
Ø  Kematangan
Ø  Pengaruh social
Ø  Proses pengendalian diri (equilibration)  
b.      Tahap Perkembangan Kognitif
Ø  Periode Sensori motor (sejak lahir – 1,5 – 2 th)
Ø  Periode Pra Operasional (2-3 sampai 7-8 th)
Ø  Periode operasi yang nyata (7-8 sampai 12-14 th)
Ø  Periode operasi formal
Kunci dari keberhasilan pembelajaran adalah instruktur/guru/dosen/guru harus memfasilitasi agar pembelajar dapat mengembangkan berpikir logis.
5.       Teori Berpikir Sosial (Social Learning Theory)
Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandura seorang psikolog pendidikan dari Stanford University, USA. Teori belajar ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana orang belajar dalam seting yang alami/lingkungan sebenarnya.
Bandura(1977)(Hipotesis)
Tingkah laku (B), lingkungan (E), dan kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi (P) merupakan hubungan yang saling berpengaruh (interlocking).
Harapan dan Nilai mempengaruhi tingkah laku
Ø  Tingkah laku sering dievaluasi, bebas dari umpan balik lingkungan sehingga mengubah kesan-kesan personal
Ø  Tingkah laku mengaktifkan kontingensi lingkungan
Ø  Karakteristik fisik seperti ukuran, jenis kelamin dan atribut sosial menumbuhkan reaksi lingkungan yang berbeda
Ø  Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu
Ø  Kontingensi yang aktif dapat merubah intensitas atau arah aktivitas.
Ø  Tingkah laku dihadirkan oleh model
Model diperhatikan oleh pelajar (ada penguatan oleh model). Tingkah laku (kemampuan dikode dan disimpan oleh pembelajar)
Ø  Pemrosesan kode-kode simbolik.
Ø  Skema hubungan segitiga antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku, (Bandura, 1976)
Skema
                           i.            Proses Kognitif Pembelajar
                         ii.            Pembelajar mampu menunjukkan kompetensi/tingkah laku
                        iii.            Performance/unjuk kerja
                       iv.            Motivasi pembelajar mengolah tingkah laku
Proses perhatian sangat penting dalam pembelajaran karena tingkah laku yang baru (kompetensi) tidak akan diperoleh tanpa adanya perhatian pembelajar. Proses retensi sangat penting agar pengkodean simbolik tingkah laku ke dalam visual atau kode verbal dan penyimpanan dalam memori dapat berjalan dengan baik. Dalam hal ini rehearsal (ulangan ) memegang peranan penting. Proses motivasi yang penting adalah penguatan dari luar, penguatan dari dirinya sendiri dan Vicarius Reinforcement (penguatan karena imajinasi).
Self Regulatory
Menunjuk kepada struktur kognitif yang memberi referensi tingkah laku dan hasil belajar,
Sub proses kognitif yang merasakan, mengevaluasi, dan pengatur tingkah laku kita (Bandura, 1978).
Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan “goal setting” dan “self evaluation” pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi belajar yang tinggi dan sebaliknya agar pembelajar sukses, instruktur/guru/dosen harus:
-Menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembelajar,
-Mengembangkan “self of mastery”, self efficacy, dan reinforcement bagi pembelajar
Strategi Proses
1.       Analisis tingkah laku yang akan dijadikan model
a.       Apakah karakter dari tingkah laku yang akan dijadikan  model itu berupa konsep, motor skil atau efektif?
b.      Bagaimanakah urutan atau sekuen dari tingkah laku tersebut?
c.       Dimanakah letak hal-hal yang penting (key point) dalam sekuen tersebut?
2.       Tetapkan fungsi nilai dari tingkah laku dan pilihlah tingkah laku tersebut sebagai model
Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yang penting dalam kehidupan dimasa datang? (success prediction)
a.       Bila tingkah laku yang dipelajari kurang memberi manfaat (tidk begitu penting) model manakah yang lebih penting?
b.      Apakah model harus hidup atau simbol?
Pertimbangan soal biaya, pengulangan demonstrasi dan kesempatan untuk menunjukkan fungsi nilai dan tingkah laku.
c.       Apakah reinforcement yang akan didapat melalui model yang dipilih?
3.       Pengembangan sekuen instruksional
Untuk mengajar motor skill, bagaimana caramengerjakan pekerjaan/kemampuan yang dipelajari: how to do this dan bukannya not this. Langkah-langkah manakah menurut sekuen yang harus dipresentasikan secara perlahan-lahan.
4.       Implementasi pengajaran untuk menuntut proses kognitif dan motor reproduksi
a. Motor skill
1)      Hadirkan model
2)      Beri kesempatan kepada tiap-tiap pembelajar untuk latihan secarasimbolik
3)      Beri kesempatan kepada pembelajar untuk latihan dengan umpan balik visual
b.proses kognitif
1)      Tampilkan model, baik yang didukung oleh kode-kode verbal atau petunjuk untuk mencari konsistensi pada berbagai contoh
2)      Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membuat ihtisar atau summary
3)      Jika yang dipelajari adalah pemecahan masalah atau strategi penerapan beri kesempatan pembelajar untuk berpartisipasi secaraaktif
4)      Beri kesempatan pembelajar untuk membuat generalisasi ke berbagai siatuasi.
Kesimpulan Teori Belajar Sosial
1.       Belajar merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses kognitif pembelajar
2.       Komponen belajar terdiri dari tingkah laku, konsekuensi-konsekuensi terhadap model dan proses-proses kognitif pembelajar
3.       Hasil belajar berupa kode-kode visual dan verbal yang dapat dimunculkan kembali atau tidak (retrievel)
4.       Dalam perencanaan pembelajaran skill yang kompleks, disamping pembelajaran komponen skill, perlu ditumbuhkan sense of efficacy dan self regulatory pembelajar
5.       Dalam proses pembelajaran, pembelajar sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk latihan secara mental sebelum latihan fisik, dan reinforcement, serta hindari punishment yang tidak perlu
6. Bloom dkk,
Domain tujuan pendidikan
1. Kognitif, berhubungan dengan ingatan, pengetahuan, dan perkembangan kemampuan dan skill intelektual
 2. Afektif, menjelaskan tentang perubahan dalam minat, perilaku (attitudes), nilai-nilai dan perkembangan dalam apresiasi dan penyesuaian
3. Psikomotor
TEORI BELAJAR ORANG DEWASA
Aliran inkuiri sebagai landasan teori belajar dan mengajar orang dewasa. Scientific Stream dan Artistic atau Intuitive/Reflective Stream. Menggali atau menemukan teori baru tentang belajar orang dewasa melalui penelitian dan eksperimen (Edward L. Thorndike,  Adult Learning 1928).


Aliran artistic
Teori baru ditemukan melalui instuisi dan analisis pengalaman yang memberikan perhatian tentang bagaimana orang dewasa belajar (Edward C. Lindeman, The Meaning of Adult Education ,1926)
Dipengaruhi filsafat pendidikan John Dewey
Penelitian Linderman
1.       Pembelajar orang dewasa akan termotivasi untuk belajar karena kebutuhan dan minat dimana belajar akan memberikan kepuasan
2.       Orientasi pembelajar orang dewasa adalah berpusat pada kehidupan, sehingga unit-unit pembelajar sebaiknya adalah kehidupan nyata (penerapan) bukan subject matter
3.       Pengalaman adalah sumber terkaya bagi pembelajar orang dewasa, sehingga metode pembelajaran adalah analisa pengalaman (experiential learning)
4.       Pembelajaran orang dewasa mempunyai kebutuhan yang mendalam untuk mengarahkan diri sendiri (self directed learning), sehingga peran guru sebagai instruktur
5.       Perbedaan diantara pembelajar orang dewasa semakin meningkat dengan bertambahnya usia, oleh karena itu pendidikan orang dewasa harus memberi pilihan dalam hal perbedaan gaya belajar, waktu, tempat dan kecepatan belajar
6.       Sumber yang paling berguna dalam pendidikan orang dewasa adalah pengalaman peserta didik
Carl R Rogers (1951)
1.       Konsep pembelajaran  Student-Centered Learning
2.       Kita tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya bisa menfasilitasi belajarnya
3.       Seseorang akan belajar secara signifikan hanya pada hal-hal yang dapat memperkuat/menumbuhkan self nya
4.       Manusia tidak bisa belajar kalau berada dibawah tekanan
5.       Pendidikan akan membelajarkan peserta didik secara signifikan bila tidak ada tekanan terhadap peserta didik, dan adanya perbedaan persepsi/pendapat difasilitasi/diakomodir
Peserta didik orang dewasa menurut konsep pendidikan
1.       Mereka yang berperilaku sebagai orang dewasa, yaitu orang yang melaksanakan peran sebagai orang dewasa
2.       Mereka yang mempunyai konsep diri sebagai orang dewasa

Konsep model andragogi
1.       Kebutuhan untuk tahu (The need to know),
2.       Konsep diri pembelajar ( the learner’s concept),
3.       Peran pengalaman pembelajar (the role of the leaner’s experience),
4.       Kesiapan belajar (readiness to learn),
5.       Orientasi belajar (orientation of learning),
6.       Motivasi lebih banyak ditentukan dari dalam diri si pembelajar itu sendiri
Didalam pembelajaran orang dewasa tidak sepenuhnya harus menggunakan model andragogi, tetapi bisa digabung model pedagogi. Jika pembelajarnya belum mengetahui atau sangat asing dengan materi yang disampaikan tentunya kita bisa menggunakan model pedagogi pada awal-awal pertemuan untuk mengkonstruksi pengalaman dengan pengetahuan yang baru didapatkan, selanjutnya bisa digunakan model andragogi sebagai penguatan dan pengembangan

Nama : Dirgantara Wicaksono
Matkul: Pemeblajaran Pkn diSd











Tidak ada komentar:

Posting Komentar