PSIKOLOGI PENDIDIKAN (Educational
Psychology)
A. PENGERTIAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
B. HUBUNGAN
PSIKOLOGI DENGAN PENDIDIKAN
C. DEFINISI & TUJUAN PENDIDIKAN
1.
Menurut
F.H. Phenix
“Education is the process whereby persons intentianally guide the
development of persons”
2.
Menurut
Ki Hajar Dewantara
Pendidikan
adalah tuntunan segala kekuatan kodrat yang ada pada anak2, agar mereka sebagai
manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan
kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
3.
Menurut
TAP MPR NO. V/MPR/1973
Pendidikan
pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk
mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah.
4. Menurut UU RI No. 2 Tahun 2003
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
KESIMPULAN
RENSTRA
DEPDIKNAS
1.
VISI
DEPDIKNAS: “INSAN INDONESIA CERDAS DAN KOMPETITIF”
2.
MISI
DEPDIKNAS: “MEWUJUDKAN PENDIDIKAN YANG MAMPU MEMBANGUN INSAN INDONESIA CERDAS
DAN KOMPETITIF DENGAN ADIL, BERMUTU, DAN RELEVAN UNTUK KEBUTUHAN MASYARAKAT
GOBAL”
D. TOKOH-TOKOH YANG BERJASA THD PERKEMB. PSIKOLOGI PENDIDIKAN
1. DEMOCRITUS
v
In the fifth century B.C., Democritus,
for example, wrote on the advantages conferred by schooling and the influence
of the home on learning (Watson, 1961).
v
(Pada abad ke-5 sebelum masehi, sebagai
contoh, Democritus menulis tentang man-faat - manfaat
tindakan oleh sekolah
dan pengaruh lingkungan rumah pada keberha-silan belajar individu)
2. PLATO & ARISTOTELES
A century later, Plato and
Aristotle discussed the following educational psychology topics
(Adler, 1952; Watson, 196 1 ) : the kinds of education appropriate to different
kinds of people; the training of the body and the cultivation of psychomotor
skills; the formation of good character; the possibilities and limits of moral
education; the effects of music, poetry, and the other arts on the development
of the individual; the role of the teacher; the relations between teacher and
student; the means and methods of teaching; the nature of learning; the order
of learning; affect and learning; and learning apart from a teacher.
Pada abad
ke-4 sebelum masehi, Plato and Aristoteles berdikusi tentang
topik-topik psikologi pendidikan :
a.
Jenis-jenis pendidikan yang sesuai
berdasarkan perbedaan-perbedaan peserta
didik;
b.
Latihan-latihan jasmani dan
pengembangan keterampilan psikomotor;
c.
Bentuk-bentuk karakter yang baik;
d.
Kemungkinan-kemungkinan dan keterbatasan-
keterbatasan pendidikan moral;
e.
Efek dari musik, puisi, dan
seni-seni lainnya pada perkembangan individu;
f.
Peranan guru;
g.
Relasi antara guru dengan siswa;
h.
Alat-alat dan metoda mengajar;
i.
Jenis-jenis aktivitas belajar;
j.
Prinsip-prinsip belajar;
k.
Afeksi dan belajar;
l.
Belajar terlepas dari guru.
3. JOHAN AMOS COMENIUS (1592-1671, Seorang ahli pendidikan dari
Cekho.)
4. JEAN JAQUES ROUSSEAU (1712-1778, seorang pemikir dari Perancis).
5. J.P. PESTALOZZI (1746 – 1872, seorang pendidik dari Swiss)
6. FRIDRICH FROBEL (1782 – 1852, seorang pendidik dari Jerman)
7.
JOHANN
FRIEDRICH HERBART ( 1776-1841).
He not only may be considered the first voice
of the modern era of psychoeducational thought, but his disciples, the
Herbartians, played a crucial role in preparing the way for the scientific
study of education. They wrote about what we now call schema theory, advocating
a cognitive psychology featuring the role of past experience and schemata in
learning and retention.
Herbartians
promoted teaching by means of a logical progression of learning, a
revolutionary idea at the end of the 19th century. They promoted the five
formal steps for teaching virtually any subject matter: (1) preparation (of the
mind of the student), (2) presentation (of the material to be learned), (3)
comparison, (4) generalization, and (5) application. It was the Herbartians who
first made pedagogical technique the focus of scientific study, pointing the
way, eventually, to the field of research on teaching, a very fruitful area of
research in educational psychology.
Herbartians
(para murid Herbart)
mengu-sulkan konsep mengajar dengan mema-kai kemajuan logis proses belajar.
Mere-ka mengemukakan 5 langkah mengajar materi apa saja :
E. TEKNIK-TEKNIK
MEMAHAMI PERILAKU DAN KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
1. Teknik tes
1. Teknik tes
2.
Teknik non tes
F. KONTRIBUSI
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
1. KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI PENGEMBANGAN KURIKULUM
2. KONTRIBUSI
PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI PENGEMBANGAN PROGRAM PENDIDIKAN dalam hal;
3. KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI PENGEMBANGAN SISTEM
PEMBELAJARAN, al. dalam hal:
4. KONTRIBUSI
PSIKOLOGI PENDIDIKAN BAGI SISTEM EVALUASI antara lain dalam:
Konsep
Psikologi Pendidikan
CHAUHAN
Psikologi
pendidikan adalah aplikasi penemuan-penemuan psikologi dalam pendidikan
Berkaitan
dengan perkembangan individu dalam setting pendidikan
Untuk menjadikan manusia yang sensitif dan reflektif
Untuk menjadikan manusia yang sensitif dan reflektif
WS. Winkel
& BF Skinner
Psikologi
pendidikan adalah cabang dari psikologi
yang membahas tentang proses belajar dan mengajar
HC
Whiterington Edwin Ray Guthrie
Psikologi
pendidikan adalah studi yang sistematis mengenai proses dan faktor-faktor
kejiwaan yang berkaitan dengan pendidikan
TEORI
BELAJAR
1.
Teori Operant Conditioning
2.
Skinner
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang harus dapat diukur. Bila pembelajar (peserta didik) berhasil belajar, maka respon bertambah, tetapi bila tidak belajar banyaknya respon berkurang, sehingga secara formal hasil belajar harus bisa diamati dan diukur.
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang harus dapat diukur. Bila pembelajar (peserta didik) berhasil belajar, maka respon bertambah, tetapi bila tidak belajar banyaknya respon berkurang, sehingga secara formal hasil belajar harus bisa diamati dan diukur.
Terdapat
tiga komponen dalam belajar :
a.
Discriminative stimulus (SD)
b.
Response
c.
Reinforcement (penguatan) => penguatan positif dan penguatan negative
3.
Teori Conditioning Of Learning, Robert M. Gagne
Didasarkan atas hasil riset tentang faktor-faktor yang kompleks
pada proses belajar manusia. Penelitiannya dimaksudkan untuk menemukan teori
pembelajaran yang efektif. Analisanya dimulai dari identifikasi konsep hirarki
belajar, yaitu urut-urutan kemampuan yang harus dikuasai oleh pembelajar
(peserta didik) agar dapat mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih
kompleks.
Belajar memberi kontribusi terhadap adaptasi yang diperlukan untuk
mengembangkan proses yang logis, sehingga perkembangan tingkah laku (behavior)
adalah hasil dari efek belajar yang komulatif. (Gagne, 1968)
Belajar itu bukan proses tunggal bersifat kompleks. Belajar
adalah mekanisme dimana seseorang
menjadi anggota masyarakat yang berfungsi secara kompleks. Meliputi kompetensi skill,
pengetahuan, attitude (perilaku), dan nilai-nilai yang diperlukan
manusia. Belajar adalah hasil dalam berbagai macam tingkah laku yang disebut
kapasitas atau outcome. Kemampuan-kemampuan diperoleh dari: (1)Stimulus dan lingkungan,
(2)Proses kognitif
Kategori
belajar:
1)
Verbal information (Informasi verbal)
Kemampuan yang dinyatakan , seperti membuat label, menyusun
fakta-fakta, dan menjelaskan. Kemampuan/unjuk kerja dari hasil belajar, seperti
membuat pernyataan, penyusunan frase, atau melaporkan informasi
2)
Intellectual Skill (Skil intelektual)
Kemampuan pembelajar yang dapat menunjukkan kompetensinya sebagai
anggota masyarakat seperti; menganalisa berita-berita.
Membuat keseimbangan keuangan, menggunakan bahasa untuk
mengungkapkan konsep, menggunakan rumus-rumus matematika
Ia tahu Knowing how
3)
Attitude (Perilaku)
Kemampuan yang mempengaruhi pilihan pembelajar (peserta didik)
untuk melakukan suatu tindakan. Belajar melalui model ini diperoleh melalui
pemodelan atau orang yang ditokohkan, atau orang yang diidolakan.
4)
Cognitive
strategi (Strategi kognitif)
Kemampuan yang mengontrol
manajemen belajar si pembelajar mengingat dan berpikir.
Cara yang terbaik untuk mengembangkan kemampuan tersebut adalah dengan melatih pembelajar memecahkan masalah, penelitian dan menerapkan teori-teori untuk memecahkan masalah ril dilapangan. Melalui pendidikan formal pembelajar menjadi self learner dan independent tinke.
Cara yang terbaik untuk mengembangkan kemampuan tersebut adalah dengan melatih pembelajar memecahkan masalah, penelitian dan menerapkan teori-teori untuk memecahkan masalah ril dilapangan. Melalui pendidikan formal pembelajar menjadi self learner dan independent tinke.
4.
Teori
Perkembangan Kognitif Jean Piaget (Cognitive Development Theory)
Pengetahuan (knowledge) adalah interaksi yang terus menerus antara
individu dengan lingkungan. Fokus Perkembangan Kognitif Piaget adalah perkembangan secara alami fikiran pembelajar mulai anak-anak sampai dewasa. Konsepsi perkembangan kognitif, duturunkan
dari analisa perkembangan biologi organisme tertentu. Intelegen (IQ=kecerdasan) adalah
seperti sistem kehidupan lainnya, yaitu proses adaptasi.
a. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif (Piaget,
1977)
Ø Lingkungan fisik
Ø Kematangan
Ø Pengaruh social
Ø Proses pengendalian diri
(equilibration)
b. Tahap Perkembangan Kognitif
Ø Periode Sensori motor (sejak lahir – 1,5 – 2 th)
Ø Periode Pra Operasional (2-3 sampai 7-8 th)
Ø Periode operasi yang nyata (7-8 sampai 12-14 th)
Ø Periode operasi formal
Kunci
dari keberhasilan pembelajaran adalah instruktur/guru/dosen/guru harus
memfasilitasi agar pembelajar dapat mengembangkan berpikir logis.
5.
Teori
Berpikir Sosial
(Social Learning Theory)
Teori ini dikembangkan oleh Albert
Bandura seorang psikolog pendidikan dari
Stanford University, USA. Teori belajar ini dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana orang
belajar dalam seting yang alami/lingkungan sebenarnya.
Bandura(1977)(Hipotesis)
Tingkah laku (B), lingkungan (E), dan kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi (P) merupakan hubungan yang saling berpengaruh (interlocking).
Tingkah laku (B), lingkungan (E), dan kejadian internal pada pembelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi (P) merupakan hubungan yang saling berpengaruh (interlocking).
Harapan dan
Nilai mempengaruhi
tingkah laku
Ø Tingkah laku sering dievaluasi,
bebas dari umpan balik lingkungan sehingga mengubah
kesan-kesan personal
Ø Tingkah laku mengaktifkan kontingensi lingkungan
Ø Karakteristik fisik seperti
ukuran, jenis kelamin dan atribut sosial menumbuhkan reaksi lingkungan yang
berbeda
Ø Pengakuan sosial yang berbeda
mempengaruhi konsepsi diri individu
Ø Kontingensi yang aktif dapat
merubah intensitas atau arah aktivitas.
Ø Tingkah laku dihadirkan oleh model
Model diperhatikan oleh pelajar
(ada penguatan oleh model). Tingkah laku (kemampuan dikode dan disimpan oleh
pembelajar)
Ø Pemrosesan kode-kode simbolik.
Ø Skema hubungan segitiga antara
lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku, (Bandura, 1976)
Skema
i.
Proses Kognitif Pembelajar
ii.
Pembelajar
mampu menunjukkan kompetensi/tingkah laku
iii.
Performance/unjuk kerja
iv.
Motivasi
pembelajar mengolah tingkah laku
Proses perhatian sangat penting dalam
pembelajaran karena tingkah laku yang baru (kompetensi) tidak akan diperoleh
tanpa adanya perhatian pembelajar. Proses retensi sangat penting agar
pengkodean simbolik tingkah laku ke dalam visual atau kode verbal dan penyimpanan
dalam memori dapat berjalan dengan baik. Dalam hal ini rehearsal (ulangan )
memegang peranan penting. Proses motivasi yang penting adalah penguatan
dari luar, penguatan dari dirinya sendiri dan Vicarius Reinforcement (penguatan
karena imajinasi).
Self Regulatory
Menunjuk kepada struktur kognitif yang memberi referensi tingkah
laku dan hasil belajar,
Sub proses kognitif yang merasakan, mengevaluasi, dan pengatur tingkah laku kita (Bandura, 1978).
Sub proses kognitif yang merasakan, mengevaluasi, dan pengatur tingkah laku kita (Bandura, 1978).
Dalam pembelajaran sel-regulatory akan menentukan “goal setting”
dan “self evaluation” pembelajar dan merupakan dorongan untuk meraih prestasi
belajar yang tinggi dan sebaliknya agar pembelajar sukses,
instruktur/guru/dosen harus:
-Menghadirkan model yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap
pembelajar,
-Mengembangkan “self of mastery”, self efficacy, dan reinforcement bagi pembelajar
Strategi Proses
-Mengembangkan “self of mastery”, self efficacy, dan reinforcement bagi pembelajar
Strategi Proses
1.
Analisis
tingkah laku yang akan dijadikan model
a.
Apakah
karakter dari tingkah laku yang akan dijadikan
model itu berupa konsep, motor skil atau efektif?
b.
Bagaimanakah
urutan atau sekuen dari tingkah laku tersebut?
c.
Dimanakah
letak hal-hal yang penting (key point) dalam sekuen tersebut?
2.
Tetapkan
fungsi nilai dari tingkah laku dan pilihlah tingkah laku tersebut sebagai model
Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yang penting dalam kehidupan dimasa datang? (success prediction)
Apakah tingkah laku (kemampuan yang dipelajari) merupakan hal yang penting dalam kehidupan dimasa datang? (success prediction)
a.
Bila
tingkah laku yang dipelajari kurang memberi manfaat (tidk begitu penting) model
manakah yang lebih penting?
b.
Apakah
model harus hidup atau simbol?
Pertimbangan soal biaya, pengulangan demonstrasi dan kesempatan
untuk menunjukkan fungsi nilai dan tingkah laku.
c.
Apakah
reinforcement yang akan didapat melalui model yang dipilih?
3.
Pengembangan sekuen instruksional
Untuk mengajar motor skill, bagaimana caramengerjakan pekerjaan/kemampuan
yang dipelajari: how to do this dan bukannya not this. Langkah-langkah
manakah menurut sekuen yang harus dipresentasikan secara perlahan-lahan.
4.
Implementasi
pengajaran untuk menuntut proses kognitif dan motor reproduksi
a. Motor skill
a. Motor skill
1)
Hadirkan
model
2)
Beri
kesempatan kepada tiap-tiap pembelajar untuk latihan secarasimbolik
3)
Beri
kesempatan kepada pembelajar untuk latihan dengan umpan balik visual
b.proses kognitif
1)
Tampilkan
model, baik yang didukung oleh kode-kode verbal atau petunjuk untuk mencari
konsistensi pada berbagai contoh
2)
Beri
kesempatan kepada pembelajar untuk membuat ihtisar atau summary
3)
Jika
yang dipelajari adalah pemecahan masalah atau strategi penerapan beri
kesempatan pembelajar untuk berpartisipasi secaraaktif
4)
Beri
kesempatan pembelajar untuk membuat generalisasi ke berbagai siatuasi.
Kesimpulan
Teori Belajar Sosial
1.
Belajar
merupakan interaksi segitiga yang saling berpengaruh dan mengikat antara
lingkungan, faktor-faktor personal dan tingkah laku yang meliputi proses kognitif pembelajar
2.
Komponen
belajar terdiri dari tingkah laku, konsekuensi-konsekuensi terhadap model dan
proses-proses kognitif pembelajar
3.
Hasil
belajar berupa kode-kode visual dan verbal yang dapat dimunculkan kembali atau
tidak (retrievel)
4.
Dalam
perencanaan pembelajaran skill yang kompleks, disamping pembelajaran komponen
skill, perlu ditumbuhkan sense of efficacy dan self regulatory pembelajar
5.
Dalam
proses pembelajaran, pembelajar sebaiknya diberi kesempatan yang cukup untuk
latihan secara mental sebelum latihan fisik, dan reinforcement, serta
hindari punishment yang tidak perlu
6. Bloom dkk,
Domain
tujuan pendidikan
1.
Kognitif, berhubungan dengan ingatan, pengetahuan, dan perkembangan kemampuan
dan skill intelektual
2. Afektif, menjelaskan tentang perubahan dalam minat, perilaku (attitudes), nilai-nilai dan perkembangan dalam apresiasi dan penyesuaian
2. Afektif, menjelaskan tentang perubahan dalam minat, perilaku (attitudes), nilai-nilai dan perkembangan dalam apresiasi dan penyesuaian
3.
Psikomotor
TEORI
BELAJAR ORANG DEWASA
Aliran
inkuiri sebagai landasan teori belajar dan mengajar orang dewasa. Scientific
Stream dan Artistic atau Intuitive/Reflective Stream.
Menggali atau menemukan teori baru tentang belajar orang dewasa melalui
penelitian dan eksperimen (Edward L. Thorndike,
Adult Learning 1928).
Aliran artistic
Teori baru
ditemukan melalui instuisi dan analisis pengalaman yang memberikan perhatian
tentang bagaimana orang dewasa belajar (Edward C. Lindeman, The Meaning of
Adult Education ,1926)
Dipengaruhi filsafat pendidikan John Dewey
Dipengaruhi filsafat pendidikan John Dewey
Penelitian
Linderman
1.
Pembelajar
orang dewasa akan termotivasi untuk belajar karena kebutuhan dan minat dimana
belajar akan memberikan kepuasan
2.
Orientasi
pembelajar orang dewasa adalah berpusat pada kehidupan, sehingga unit-unit
pembelajar sebaiknya adalah kehidupan nyata (penerapan)
bukan subject matter
3.
Pengalaman
adalah sumber terkaya bagi pembelajar orang dewasa, sehingga metode
pembelajaran adalah analisa pengalaman (experiential learning)
4.
Pembelajaran
orang dewasa mempunyai kebutuhan yang mendalam untuk mengarahkan diri sendiri (self
directed learning), sehingga peran guru
sebagai instruktur
5.
Perbedaan
diantara pembelajar orang dewasa semakin meningkat dengan bertambahnya usia,
oleh karena itu pendidikan orang dewasa harus memberi pilihan dalam hal
perbedaan gaya belajar, waktu, tempat dan kecepatan belajar
6.
Sumber yang paling berguna dalam pendidikan orang dewasa adalah
pengalaman peserta didik
Carl R
Rogers (1951)
1.
Konsep pembelajaran Student-Centered
Learning
2.
Kita
tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya
bisa menfasilitasi belajarnya
3.
Seseorang
akan belajar secara signifikan hanya pada hal-hal yang dapat
memperkuat/menumbuhkan self nya
4.
Manusia
tidak bisa belajar kalau berada dibawah tekanan
5.
Pendidikan akan membelajarkan peserta didik secara signifikan bila
tidak ada tekanan terhadap peserta didik, dan adanya perbedaan
persepsi/pendapat difasilitasi/diakomodir
Peserta didik orang dewasa menurut konsep
pendidikan
1.
Mereka yang berperilaku sebagai orang dewasa, yaitu orang yang
melaksanakan peran sebagai orang dewasa
2.
Mereka yang mempunyai konsep diri sebagai orang dewasa
Konsep
model andragogi
1.
Kebutuhan
untuk tahu (The need to know),
2.
Konsep
diri pembelajar ( the learner’s concept),
3.
Peran
pengalaman pembelajar (the role of the leaner’s experience),
4.
Kesiapan
belajar (readiness to learn),
5.
Orientasi
belajar (orientation of learning),
6.
Motivasi
lebih banyak ditentukan dari dalam diri si pembelajar itu sendiri
Didalam pembelajaran orang dewasa tidak
sepenuhnya harus menggunakan model andragogi, tetapi bisa digabung model
pedagogi. Jika pembelajarnya belum mengetahui atau sangat asing dengan materi
yang disampaikan tentunya kita bisa menggunakan model pedagogi pada awal-awal
pertemuan untuk mengkonstruksi pengalaman dengan pengetahuan yang baru
didapatkan, selanjutnya bisa digunakan model andragogi sebagai penguatan dan
pengembangan
Nama : Dirgantara Wicaksono
Matkul: Pemeblajaran Pkn diSd
Tidak ada komentar:
Posting Komentar